Sabtu, 16 Oktober 2010

RPP KEWIRAUSAHAAN KELAS XII « Istiakuntansi’s Weblog

RPP KEWIRAUSAHAAN KELAS XII « Istiakuntansi’s Weblog: "- Sent using Google Toolbar"

RPP KEWIRAUSAHAAN KELAS XII « Istiakuntansi’s Weblog

RPP KEWIRAUSAHAAN KELAS XII « Istiakuntansi’s Weblog: "- Sent using Google Toolbar"

Profil « Dina Ratnasari

Profil « Dina Ratnasari: "- Sent using Google Toolbar"

BLOG PENDIDIKAN: RPP

BLOG PENDIDIKAN: RPP

dimataku setiap hari



                   asep kumara dewa

Jumat, 15 Oktober 2010

DUNIA MAYA - Google Search

DUNIA MAYA - Google Search: "- Sent using Google Toolbar"

DUNIA MAYA - Google Search

DUNIA MAYA - Google Search: "- Sent using Google Toolbar"

dimataku setiap hari


penjaga konter  nabilla cell

Kamis, 14 Oktober 2010

dimataku setiap hari

       saat bumi terguyur hujan semangat bangsa ini tak henti tuk terus mencari napkah untuk kehidupan dan kesetabilan perekonomian , berkahi mereka yang bekerja di jalanmu ya allah











ajab dalam kubur

video
      sebuah contoh betapa allah maha kuasa akan semua mahluknya,
Imam Al-Ghazali
Posted by asep kumara dewa

imam-al-ghazaliAbu Hamid Al-Ghazali (1058-1128 A.D.). Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Tusi al-Shafi’i al-Ghazali (Imam Al-Ghazali) lahir tahun 1058 A.D. di Khorasan, Iran. Ayahnya meninggal pada saat dia masih sangat muda, namun dia mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah dengan kurikulum yang bagus di Nishapur dan Baghdad. Segera setelah itu, dia menerima penghargaan di bidang agama dan filsafat dan ditunjuk sebagai professor pada Universitas Nizamiyah di Baghdad, yang terkenal sebagai institusi pendidikan yang bergengsi pada jaman keemasan sejarah Islam.

Beberapa tahun kemudian, dia berhenti dari kehidupan di dunia universitas dan hidup keduniaan, lalu mencari kehidupan zuhud. Saat ini merupakan masa transformasi mistis bagi Al-Ghazali. Kemudian, dia mulai tugasnya lagi sebagai pengajar, namun kemudian ditinggalkan lagi. Sebuah kehidupan menyendiri, yang dikonsentrasikan pada kontemplasi dan menulis dia lakukan, yang menghasilkan beberapa karya yang monumental. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 1128 A.D.

Karya Ghazali yang utama pada bidang agama, filsafat, dan sufi. Beberapa filsuf Muslim mengikuti dan mengembangkan beberapa pandangan yang berasal dari filsafat Yunani, termasuk filsafat Neoplatonis, yang berakibat benturan dengan ajaran Islam. Di lain pihak, gerakan sufi kadang dipandang terlalu berlebihan, seperti misalnya tidak menjalankan kewajiban shalat dan kewajiban yang lainnya dalam Islam. Berdasarkan kepada reputasi keahliannya dalam bidang agama dan pengalaman mistis, Ghazali mencoba mengawinkan kecenderungan ini, baik dari segi filsafat maupun sufi.

imam-al-ghazali-2Dalam bidang filsafat, Ghazali percaya bahwa pendekatan matematika dan ilmu pasti adalah benar. Namun, beliau menggunakan logika Aristotelian dan prosedur Neoplatonis, serta menggunakan keduanya untuk mengungkap kelemahan-kelemahan dan kekosongan dalam filsafat Neoplatonis dan untuk menghilangkan pengaruh negatif dari Aristotelianisme dan rasionalisme yang berlebihan. Sebagai kontras dengan beberapa filsuf Islam lainnya, misalnya, Farabi, dia menggambarkan ketidakmampuan akal untuk mencerna yang mutlak dan tak terhingga. Akal tidak mampu mentransformasikan segala yang terhingga dan terbatas menjadi suatu pengamatan yang relatif. Demikian pula, beberapa filsuf Islam berpendapat bahwa jagad raya ini terbatas dalam ruang tetapi tak terbatas dalam waktu. Ghazali berpendapat bahwa ketakterhinggaan waktu mempunyai korelasi dengan ketakterhinggaan ruang. Dengan kejernihan dan kekuatan argumennya, dia berhasil menciptakan keseimbangan antara agama dan akal, dan mengidentifikasi kawasannya sebagai tak terhingga dan terhingga.

imam-al-ghazaliDalam agama, terutama dalam bidang mistisme, dia membersihkan pendekatan sufisme yang berlebihan dan memantapkan otoritas agama yang ortodoks. Namun, dia tetap menekankan pentingnya keaslian sufisme, yang dia pelihara adalah jalan untuk menuju kebenaran hakiki.

Dia adalah seorang penulis yang mahir. Buku klasiknya termasuk Tuhafut al-Falasifa, Ihya al-’Ulum al-Islamia, “The Beginning of Guidance and his Autobiography”, “Deliverance from Error.” Beberapa karyanya diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa Eropa di Abad Pertengahan. Dia juga menulis tentang astronomi.

Pengaruh Ghazali sangat dalam dan lama. Dia adalah salah satu dari ahli agama Islam yang terbesar. Doktrin teologinya menembus Eropa, mempengaruhi baik Yahudi maupun Kristiani dan beberapa argumentasinya tampaknya telah digunakan oleh Thomas Aquinas untuk memantapkan otoritas agama Kristen yang ortodoks di Barat. Begitu kuatnya argumentasi dia dalam keberpihakannya terhadap agama, sehingga dia dituduh sebagai penyebab kemunduran filsafat, dan di kalangan Muslin Spanyol, Ibn Rushd (Averros) menulis bantahan terhadap karyanya Tuhafut al-Falasifa.

sumber media inter net


oreg email, randyaldorino@yahoo.co.id

liberary asep kumara dewa

ASEP KUMARA DEWA: "COMMENT: Revisiting Islam and human rights -Ahmad Ali Khalid By creating a scenario where liberals fear to engage in theology, religious ethics and epistemology by adopting the delusional principle of moral abstemiousness, we let the public sphere be filled with narrow and intolerant moralisms The issue of human rights is contentious. More so in Pakistan, where human rights are seen as a foreign concept and, peculiarly, a repressive instrument of neo-colonial forces aimed at vilifying Muslim societies. Respectable columnist Ishtiaq Ahmed has written many times on the subject of human rights and, by and large, I am in total agreement with what he writes. However, in this article I argue that in order to justify human rights in Muslim societies, we need to adopt certain epistemic and philosophical methods. Adopting a basis for human rights on the proviso of utilitarianism, liberal neutrality or a free standing concept of justice independent from comprehensive doctrines of religion and ideology (in the Rawlsian sense) is not feasible. The fact of the matter is that adopting a non-theistic moral framework in a religious society is not feasible either. A framework of moral reasoning grounded in a form of religious liberalism (for instance the liberal theology of John Locke), is needed to counter the conservative/traditionalist framework of religious reasoning. Most political theorists urge us to adopt non-cultural and non-religious grounds for human rights so that we can avoid the tricky metaphysical, theological and ontological questions involved. But this is to totally avoid the crux of the matter, to skip the substance of the debate and cede ground to fundamentalists. We cannot avoid, when discussing human rights, getting involved in the indigenous traditions of ethics, justice, morality, epistemology and ontology of a specific faith or culture. Hence, rather than try and banish moral and religious arguments, liberals should engage in these arguments to provide an alternative narrative. Ishtiaq Ahmed rightly criticises the Islamic Declaration of Human Rights because it limits moral autonomy by having a narrow and literalistic conception of God's sovereignty. So, rather than avoid the subject of God's sovereignty altogether, we should engage in this discussion and argue that God's sovereignty does not mean we adopt a dictator-despot concept of God, but rather that God endows us with the capacity for free moral choices (free will). Hence, by creating a scenario where liberals fear to engage in theology, religious ethics and epistemology by adopting this delusional principle of moral abstemiousness, we let the public sphere be filled with narrow and intolerant moralisms. And that is the situation in Pakistan today. Harvard philosopher Michael Sandel reminds us that, 'Fundamentalisms rush in where liberals fear to tread.' Grounding human rights in Muslim societies will require an epistemological shift in religious theology and religious moral reasoning. In short, I argue that we must move from the traditional Asharite concept of divine command ethics (an act is only good or bad if God says that it is; an act is never inherently good or evil) towards the Mu'tazilite concept of natural law (the moral value of an act can be determined by unaided human reason). A theory of Islamic natural law will enable a dialogue between secular and religious reason and participants. This is the shift from the traditionalist-Asharite thesis to the rationalist/naturalist-Mu'tazilite thesis. The ingredients for the religious justification of human rights are the acceptance of free will, human dignity, the moral worth of all human beings, the historical context of sacred scripture and the value of human reason. The Mu'tazilites adopt a unique position in affirming the moral value of all human beings, the ability of all human beings, regardless of faith, to comprehend basic values of right and wrong (in contrast to the Asharites who argue our concept of right and wrong must come directly from Revelation, hence only Muslims have the ability to determine right and wrong). The Mu'tazilites adopt, furthermore, a precursor to the historic-critical method of Quranic interpretation and the crucial concept of free will that can be related to moral autonomy, which is critical for any justification for human rights. The Mu'tazilite belief that ethical values are independent of God, that we are endowed with free will and all humans have the same moral worth and dignity is the strongest opposition available to us to deconstruct discriminatory practices on the basis of religion. Practices of misogyny, gender discrimination, religious discrimination and other such human rights abuses either stem from an outdated interpretation and theology of moral reasoning or through the virus of cultural relativism. These practices are sanctioned by the supposed guardians of religious tradition (which is then erroneously fused with issues of identity, culture and a collective communal conscience), and they go unchallenged. Natural law may be a dated concept in the West (there are still respectable theorists who urge a natural law concept of human rights - 'natural law liberalism'), derived from medieval scholastic theology, but it is an invaluable resource. Contemporary examples of utilising the approach of religious natural law are Abdulaziz Sachedina and Dr Anver M Emon. Sachedina, in his recent work, Islam and the Challenge of Human Rights, argues for a theory of Islamic natural law. He uses Mu'tazilite philosophical and interpretive strategies and concepts to provide a framework of inclusive and liberal moral theology. Sachedina argues for a conversation and dialogue between religious liberals and secular moral theorists, since the goals are the same but the routes are different. This innovative set-up of moral pluralism where different cultures and traditions can reach the same conclusions but with different concepts of human nature, epistemology and ethics is attractive. Sachedina argues that we must utilise 'religious reason' to construct arguments from the Islamic tradition to provide a buttress for human rights. Dr Emon's book, Islamic Natural Law Theories, is more specialised but richer since Emon provides several possible versions of Islamic natural law from Muslim history and philosophy. Indeed the book shows that, 'They (Islamic natural law theorists) asked whether and how reason alone can be the basis for asserting the good and the bad, and thereby justifying obligations and prohibitions under sharia. They theorised about the authority of reason amidst competing theologies of God and their implications on moral agency. For them, nature became the link between the divine will and human reason.' Islamic natural law should be the adopted moral and epistemological basis for human rights in Pakistan. Liberals must realise that they cannot stay above these debates and must engage in community reasoning, identifying common grounds and building upon them. Otherwise, religiously sanctioned human rights abuses will continue and liberals will become irrelevant.
POST OF ASEP KUMARA DEWA , email adres<<< randyaldorino@yahoo.co.id

Rabu, 13 Oktober 2010

- Dongeng Bahasa Sunda.

cerita cerita ibu - Dongeng Bahasa Sunda, tolong translatin dong.,: "Dongeng Bahasa Sunda, tolong translatin dong., Nov 13, '08 11:08 PM
for everyone
Kampung Bojong Kenyot, Desa Legok hanseur, di wewengkon Jatihandap nukarek 2 bulan asup listrik, beurang eta meuni gujrud pisan. Bejana, Kang Maman sura-seuri tuluy luluncatan teu puguh-puguh. Jigana bagja luar biasa! Kang Maman kikituan teh, kulantaran, atoh sanggeus 5 taun nungguan teu namper-namper, Eti 'si gadis jujur' nu ayeuna geus jadi > pamajikanna reuneuh. hamil gitu loh! >

Teh Eti: 'Akang, Eti pan terang hamil teh ngetesna nganggo alat nu > digaleuh ti apotik cap oray ngabeulit geulas tea. Amih pastina, kedah > marios ka puskesmas. Omat tong bebeja ka sasaha heula nya kang!? sa > acan puguh katerangan ti dokter? Bisi teu jadi deui pan era geus > diomong-omong ka batur! Eta si Bleki, anak anjing piaraan urang tong > dibejaan oge kang...' > >

Kang Maman: 'Puguh we darling, papah moal beja-beja ka sasaha heula > ari can meunang katerangan ti professor mah.' > > Teu lila, aya nu keketrok di panto hareup. Teh Eti ngincig muka lawang > panto. Sihoreng petugas PLN nu mere tagihan jeung denda tunggakan > rekening listrik bulan kamari nu can dibayar.

> > Tukang Rekening PLN: 'Ibu sudah telat satu bulan ya?' > >

Teh Eti: 'Bapa terang ti saha? ...Akaaaaang. > > ..kadieu geura! yeuh aya > nu apaleun rahasia tea!' > >

Kang Maman: 'Hag siah?...kumaha bapa tiasa uninga tos telat sasasih sagala? > >

Tukang Rekening PLN: 'Semua tercatat di kantor kami, Pak.' >

> Kang Maman beuki rieut: 'Tercatat? Mangga ari kitu mah, enjing abdi ka > kantor bapa. Urang bereskeun perkawis ieu. Omat tong wawar ka sasaha > nya pa?!' > > Isukna... > > Pok Kang Maman bari semu ambek: 'Kumaha sih bet PLN bisa nyaho rahasia > rumah tangga kuring?' >

> Karyawan PLN: 'Ya tahu dong, lha wong ada catatannya pada kami lho pak!' > >

Kang Maman: 'Jadi kuring kudu kumaha atuh, amih berita ieu tong nyebar > jeung bisa dirahasiakeun ku PLN?' >

> Karyawan PLN: 'Ya mesti bayar dong Pak!' >

> Kang Maman (anjritt urang diperes yeuh?!): 'Mun teu daek mayar, kumaha?' > >

Karyawan PLN: 'Ya punya Bapak terpaksa kami putus...' >

> Kang Maman: 'Gusti! Diputus? Dugi ka kituna? Atuh kumaha engke > pamajikan sayah, karunya Pa? >

> Karyawan PLN: 'Kan masih bisa pakai lilin.' > > Kang Maman (ngahuleung) : '@?#!!*&%$????' >
Tags: cerita lain
Prev: Bapak Item anak item ???
Next: Ibu Bikin Kue, Abang yang jualan
reply share

Sponsored Links

- asep kumara dewa"

Khutbah jumat

contoh Khutbah: "       Pada khutbah Jum’at kali ini, khatib mengetengahkan tema “Bagaimana caranya agar doa diijabah?”. Di bagian ini, aku menambahkan beberapa hal yg terkait dengan doa, sehingga aku kelompokkan artikel ini ke dalam kelompok Khutbah Jum’at dan Fiqh. Detail ttg do’a akan menyusul, demikian harap maklum ;-)

Di awal khutbah, khatib menyitir sebuah ayat dari surat Al Fushshilat (41) ayat 51. Terjemahnya sebagai berikut: “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdoa.” Dari ayat tersebut, terlihat bahwa ALLOH ‘menyindir’ dan mengecam (sifat) manusia, yg mudah lupa jika diberi kenikmatan. Sebaliknya, jika mendapat kesulitan, walau sekecil apapun, maka dia akan menangis, berkeluh kesah dan berdoa meminta pertolongan kepada ALLOH SWT.

Hanya saja, perlu dicatat bahwa tidak semua manusia berbuat demikian. Masih ada manusia yg tetap mengingat ALLOH SWT baik di kala senang maupun di kala susah. Contoh manusia yg tetap mengingat ALLOH SWT di saat mendapat kenikmatan/kesenangan yg luar biasa banyaknya adalah Nabi Sulaiman as. Sedangkan Nabi Ayyub bisa menjadi contoh manusia yg tetap mengingat ALLOH baik di kala suka ataupun duka.

Pada hakikatnya doa mesti dilakukan dalam keadaan dan kondisi apapun. Kaya, miskin, suka, duka, sehat, sakit, tidak boleh menjadi penghambat untuk berdoa. Hal ini mengingatkan kita bahwa pada dasarnya MANUSIA BERGANTUNG HANYA KEPADA ALLOH SWT.

Rasululloh SAW sendiri bersabda bahwa doa merupakan inti ibadah!!!

Kita sendiri HARUS YAKIN bahwa doa kita DIKABULKAN…!!! Jika tidak dikabulkan di dunia, maka doa tersebut akan menjadi amalan kita di akhirat kelak.

Manusia memang ‘aneh’, seringkali di saat genting dia berdoa kepada ALLOH SWT seraya menjanjikan ini itu (bernadzar), tapi begitu ALLOH SWT mengangkat kesulitannya, pada saat itu pula dia melupakan nadzarnya itu. Dg kata lain, manusia begitu mudah mendurhakai ALLOH SWT yg telah menolongnya..!! (ini sesuai dg kutipan ayat yg dibaca khatib di awal khutbah).

Berikut beberapa tips agar doa dikabulkan ALLOH SWT:
1. Makanan, minuman, dan pakaian yg kita gunakan, pakai, dan konsumsi sehari-hari mestilah berasal dari rejeki yg HALAL. Ingat, 1 SUAP makanan yg haram akan menghalangi diterimanya ibadah kita selama sekian waktu, apalagi jika makanan haram tersebut telah menjadi daging…berarti kita telah menyiapkan diri kita masuk ke dalam neraka.
2. Menyucikan dan membersihkan diri, baik lahir-batin. Sebaiknya sebelum berdoa kita membersihkan diri (minimal berwudhu) untuk membersihkan lahir kita. Untuk membersihkan batin, kita bisa perbanyak dzikir dan istighfar.
3. Membaca sholawat Nabi. Tanpa menyertakan sholawat Nabi dalam berdoa, akan mengakibatkan doa menggantung (tidak jelas statusnya…)
4. Perbanyak puji2an kepada ALLOH SWT, karena hanya ALLOH SWT yg berhak utk segala puja dan puji. Puja dan puji bagi ALLOH bisa kita ambil dari Asmaul Husna.
5. Berdoalah di waktu2 dan tempat2 yg mustajab. Sebagai contoh, padang Arafah, di masjid, hari Jum’at, 1/3 malam terakhir, di antara 2 khutbah, saat hendak buka puasa, saat hendak sahur, dst.
6. Carilah waktu2 yg hening, agar kita bisa doa dg khusyuk. Misalnya di saat sujud, 1/3 malam terakhir, dst.
7. (Dianjurkan) Gunakan doa para Nabi/Rasul. Di Qur’an banyak sekali doa-doa para Nabi dan Rasul. Yg harus diingat adalah kita harus PAHAMI betul doa2 tersebut, agar meresap ke dalam hati. Namun, tidak ada salahnya juga berdoa dg cara kita sendiri, terutama bila kita punya hajat/kemauan. TIDAK ADA MASALAH BERDOA DG BAHASA SEHARI-HARI (bukan bahasa Arab).
8. Berdoalah yg wajar (diutamakan jika kita telah melakukan ikhtiar sebelumnya). Janganlah kita berdoa utk sesuatu yg tidak masuk akal. Contohnya kita minta diturunkan hujan uang, atau kita minta kaya tapi kita tidak berusaha/tidak bekerja, dst dst.

Ada manusia-manusia yg doanya tidak ditolak/mudah diijabah/mudah diterima+dikabulkan ALLOH SWT. Mereka antara lain:
1. Kedua orang tua, yg mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bagi anak2nya. Bagi para orang tua, hendaklah berhati-hati menjaga lisannya, terutama pada saat emosi. Jika salah ucap, maka bukan kebahagiaan yg didapat anaknya, namun kutukan dan azab ALLOH yg diterima anaknya. Bagi kita yg orangtuanya masih hidup, hendaknya jangan sampai melukai hati orang tua.
2. Orang yg teraniaya. Dalam kasus ini, orang yg teraniaya adalah orang yg didzalimi, direbut dan diambil paksa hak2nya, dibohongi (diberi janji2 palsu). Insya ALLOH doa mereka tidak akan ditolak ALLOH SWT. Karena itu, hati2lah dalam menjadi pemimpin. Jangan sampai ada rakyat yg teraniaya.
3. Pemimpin yg adil. Jika seorang pemimpin berjuang dengan ikhlas demi kemakmuran rakyatnya, maka doanya tidak akan ditolak ALLOH SWT.
4. Pejuang Fi Sabilillah. Termasuk di dalamnya orang2 yg berjuang di jalan ALLOH, berdakwah, dst dst.
5. Orang yg sedang shaum/puasa. Menjelang Ramadhan ini, persiapkan ‘daftar’ doa yg hendak kita mintakan kepada ALLOH SWT. Insya ALLOH dikabul…
6. Anak-anak yg sholeh dan sholehah. Untuk itu, bekali anak2 kita dengan harta dan ilmu (terutama ilmu agama), agar mereka menjadi penolong kita saat kita telah meninggal kelak

- asep kumaradewa

Kumpulan Sekilas Info

Kumpulan Sekilas Info: "KRISIS EKONOMI & PENANGKAPAN MALING BERKEPANJANGAN
Oleh: ASEP KUMARADEWA

Kalian tahu, sekarang banyak macam krisis ekonomi.
Mulai dari segi finansial, dan lainnya.
Nah, sekarang kita temui keluarga yang satu ini.
Keluarga yang satu ini krisis ekonomi.
Krisisnya dari segi keuangan.
Malahan, mereka sampai krisis terus-terusan.
Lihatlah salah satu dialog berikut ini :
Pewawancara : 'Kalian kan krisis ekonomi. Krisis ekonomi apa?'
Narasumber : 'Krisis ekonomi dari segi keuangan.'
Pewawancara : 'Lho, kok bisa krisis ekonomi? Awalnya uang bapak kan banyak.'
Narasumber : 'Soalnya uangnyas dirampok maling.'
Pewawancara : 'Pantas sekarang jadi krisis keuangan gara-gara maling.'
Akhirnya diteleponlah polisi (krisis keuangan gara-gara maling merampok uang itu)
Inilah dialog si narasumber tadi dengan polisi.
Narasumbernya bernama Pak Jono.
Pak Jono : 'Halo, ini pak polisi ya?'
Polisi : 'Ya, ada urusan apa bapak?'
Pak Jono : 'Saya krisis keuangan karena uang saya dirampok maling.'
Polisi : 'sebentar lagi masalah ini akan saya selesaikan.'
Pak Jono : 'Terima kasih pak. Selamat pagi.'
Polisi : 'Selamat pagi.'
Akhirnya polisi mengejar maling itu, tanpa ia sadari maling itu kabur.
Maling itu dikejar menggunakan mobil, dan akhirnya berhasil ditangkap.
Lagi-lagi, tidak disangka kalau maling itu super kaya raya.
Mengapa? Karena maling itu terbukti merampok uang milik orang lain.
Terbukti. Maling itu sudah tertangkap sejak 6 hari yang lalu.
Maling tadi akhirnya kabur dan polisi berhak mencarinya lagi.
Polisi menemukannya dan menahannya kembali.
Hukuman yang diterima maling itu berat karena maling ini berkali-kali mencuri.
Amanat : 'MAKANYA KALAU DITANGKAP POLISI JANGAN DILEPAS MELULUK. NANTI KALAU DIBEBASKAN MASIH MENCOPET LAGI, HUKUMANNYA BERAT, LHO!!!!!!!!!'

MY BLOG

Kumpulan Artikel

Kumpulan Artikel: "Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini jawabannya belum mampu memuaskan manusia adalah, apakah hakikat wujud manusia? Apakah wujud manusia hanya sebongkah badan materiel, atau juga membawa hakikat selain materi? Dengan kata lain, apakah al-Quran mengakui bahwa manusia adalah hakikat selain materi yang disebut dengan ruh atau menolaknya? Bila mengakui demikian, lalu bagaimana kitab suci ini menjelaskan hubungan ruh dengan badan? Apakah ruh ada setelah kejadian badan atau sebelumnya? Apakah al-Quran mengakui bahwa setelah kehancuran badan, ruh tetap ada atau tidak?

Sebenarnya al-Quran telah menyebutkan adanya dimensi selain materi pada manusia yang disebut dengan ruh. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh ayat berikut ini: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh-Nya ke dalamnya dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kalian bersyukur.[1] Kalimat “meniupkan ruh-Nya ke dalamnya” dalam ayat di atas menunjukkan adanya dimensi yang bernama ruh pada manusia. Setelah menjelaskan tentang ruh, ayat tersebut mengatakan bahwa Allah menciptakan untuk kalian telinga, mata dan hati, menurut pandangan sebagian para penafsir, meskipun membicarakan tentang anggota badan akan tetapi maksudnya adalah penggunaan dari anggota tersebut yaitu mendengar dan melihat.

Mungkin bisa juga diambil kesimpulan secara detil dari ayat di atas bahwa setelah menyebutkan tentang peniupan ruh kemudian menyebutkan tentang telinga, mata dan hati sebabnya adalah karena sumber asli perbuatan anggota tersebut adalah ruh. Yakni bila ruh tidak ada maka anggota tersebut tidak ada gunanya karena anggota tersebut hanya berperan sebagai perantara bagi ruh, tanpa ruh dengan sendirinya anggota tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam filsafat Islam telah terbukti bahwa badan berperan sebagai perantara bagi aktivitas ruh. Aktivitas yang dilakukan oleh anggota badan pada hakikatnya sumbernya adalah ruh. Yakni melihat, mendengar, mencium dan berbicara semuanya terkait dengan ruh. Mata, telinga, hidung dan lidah hanya sekedar perantara untuk mengetahui masalah-masalah ini. Misalnya sebuah kacamata. Orang yang penglihatannya lemah, ia menggunakan kacamata, lantas apakah kacamata itu sendiri yang melihat atau kacamata hanya sekedar perantara bagi mata? Jelas kacamata dengan sendirinya tidak bisa melihat akan tetapi ia harus diletakkan di depan mata sehingga mata yang kerjanya adalah melihat dengan menggunakan kacamata ia bisa melihat sesuatu. Pada hakikatnya mata dalam contoh tersebut sama seperti ruh, dan telinga, mata dan lidah seperti kacamata sebagai perantara. Ruh dengan perantara anggota badan bisa melakukan aktivitasnya.

Ayat lain yang mengisyaratkan adanya ruh pada manusia adalah ayat berikut ini:

Dan apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.[2] Dua poin penting yang ada dalam dua ayat di atas adalah Allah mengatakan, “Aku meniupkan ruh-Ku”, apa maksud dari kalimat tersebut? Apakah maksudnya adalah Allah meniupkan sebagian ruh-Nya kepada manusia. Yakni sebagian ruh-Nya masuk ke dalam tubuh manusia atau ada maksud yang lain lagi?

Jelas Allah bukan ruh sehingga harus memasukkan sebagian ruh-Nya ke dalam tubuh manusia, akan tetapi yang dimaksud oleh al-Quran dengan penjelasan ini adalah kemuliaan dan ketinggian ruh itu sendiri. Yakni ruh begitu bernilai sehingga Allah menghubungkannya dengan diri-Nya dan mengatakan, “Aku meniupkan kepadanya ruh-Ku”. Bisa kita jelaskan dengan contoh lain seperti masjid adalah rumah Allah. Kita tahu bahwa masjid bukan rumah Allah, karena Dia bukan materi sehingga harus membutuhkan tempat tinggal, akan tetapi maksudnya adalah nilai dan pentingnya masjid sehingga disebut dengan rumah Allah. Contoh lain seperti majelis rakyat juga disebut sebagai rumah rakyat.

Ada ayat lain yang mengisyaratkan tentang wujudnya ruh:Demi nafs (ruh, jiwa) dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan jalan kefasikan dan jalan ketakwaannya.[3] Ayat di atas menceritakan tentang realitas ruh yang memiliki pemahaman. Ayat di atas mengatakan bahwa Allah telah mengilhamkan pemahaman baik dan buruk. Mengingat bahwa pada manusia tidak terdapat anggota badan pun yang bisa memahami sesuatu, maka yang layak memiliki pemahaman adalah kekuatan selain materi yang disebut oleh al-Quran dengan ruh atau nafs.

Di sini kita mengajukan dua argumentasi untuk membuktikan keberadaan ruh yang nonmateri:

1. Salah satu pembuktian ruh ialah cara manusia memperoleh konsep-konsep universal (intiza’-e mafahim-e kulli). Maksud dari universal di sini ialah bahwa konsep-konsep itu bisa bisa diaplikasikan pada banyak objek. Misalnya, manusia sebagai konsep universal. konsep manusia ini bisa diaplikasikan pada semua objek individualnya seperti Ali, Husein, Husein dan selain mereka. Kita juga tahu bahwa konsep-konsep universal ini tidak ada secara konkret di luar, karena segala yang ada di luar memiliki keadaan, kualitas dan kuantitas tertentu. Pertanyaannya, di manakah tempat konsep-konsep universal ini? Jelasnya, tempat mereka nonmateri, karena materi melazimkan bentuk tertentu, keadaan tertentu, batas ruang dan waktu tertentu, sementara konsep-konsep universal tidak memiliki satupun dari ciri-ciri ini. Dengan demikian, maka mesti ada suatu sisi selain materi dalam wujud manusia, sehingga konsep-konsep universal -yang tidak memiliki ciri-ciri materiel sedikit pun- itu bisa berada di dalamnya.

2. Salah satu dari ciri-ciri materi ialah adanya hubungan khas antara tempat dan penempat (yang menempati). Yakni, penempat tidak pernah lebih besar dari tempatnya; sesuatu yang lebih besar tidak bisa menempati ruang yang kecil. Manusia banyak menyaksikan benda-benda besar dan ia bisa menempatkan gambaran (konsep) benda-benda besar tersebut dalam pikirannya sesuai dengan ukurannya. Misalnya, ia bisa membayangkan gedung bertingkat dua puluh dalam pikirannya atau menggambarkan ratusan meter persegi gunung dalam pikirannya. Pertanyaannya, kalau benar bahwa penggambaran gedung bertingkat dua puluh ini bisa dilakukan oleh otak sebagai benda yang memiliki ukuran kecil, lantas bagaimana benda yang besar itu bisa menempati tempat yang kecil ini? Jelas, berdasarkan kaidah di atas (yakni hubungan khas antara tempat dan penempatnya) pasti ada satu hakikat nonmateri dalam diri manusia, sehingga ia bisa menempatkan sesuatu yang besar itu dalam dirinya sesuai dengan ukuran sebenarnya. Dan hakikat tempat tersebut ialah ruh (nafs). Karena ruh bukan materi, ia bisa ditempati oleh sesuatu yang besar.
Hubungan Ruh dengan Badan

Dalam pembahasan ruh (nafs) ada pertanyaan, “apa hubungan badan dengan ruh? Apa pendapat al-Quran dalam masalah ini? Apakah al-Quran mengakui bahwa ruh dan badan adalah dua hakikat yang berpisah di mana antara keduanya terdapat dualisme, atau al-Quran mengakui pendapat yang lainnya lagi?”

Dalam sejarah filsafat, Descartes dan pendukungnya memaparkan teorinya bahwa ruh dan badan adalah dua substansi yang berbeda. Yakni jasmani adalah sesuatu dan ruh adalah sesuatu yang lain lagi. Dan manusia adalah hakikat yang tersusun dari dua paduan yang berbeda. Decart mengatakan bahwa sifat aslinya badan adalah perpanjangan, perluasan. Dan sifat aslinya ruh adalah berpikir. Tentunya, Descartes mengakui bahwa antara badan dan ruh, terdapat suatu hubungan, dan yang menghubungkan keduanya adalah kelenjar (pineal gland) yang ada dalam otak.

Teori lain mengatakan bahwa hakikat wujud manusia adalah ruh itu sendiri. Wujud manusia bukan komposisi dari badan dan ruh. Yakni, wujud manusia adalah ruhnya itu sendiri, bukan ruh sebagai satu bagian dari wujud manusia. Oleh karenanya, berdasarkan teori ini, antara ruh dan badan ada sejenis hubungan yang disebut dengan hubungan taktis (ertebat-e tadbiri), yang di dalamnya badan sebagai alat dan ruh sebagai pengelola.

Ayat di bawah ini menunjukkan bahwa al-Quran mengakui bahwa wujud manusia sebagai ruh itu sendiri. Katakanlah, Malaikat maut yang diserahi mencabut nyawamu akan mematikan kalian (yatawaffakum: mengambil kalian secara keseluruhan) kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.[4] Kata “tawaffa” artinya adalah mengambil, dan mengambil secara penuh. Ayat di atas mengatakan bahwa malaikat pencabut nyawa akan mengambil dasar wujud manusia. Kalau memang ruh adalah satu bagian dari wujud manusia, al-Quran tidak mengatakan: “yatawaffakum”, tetapi ia akan mengatakan: “yatawaffa ba’dhakum”. Mengambil sebagian dari kalian berbeda dengan mengambil kalian secara keseluruhan.

Maka dari itu, mengingat bahwa malaikat maut akan mengambil ruh manusia; bukan mengambil badannya. Dan ayat tersebut juga mengatakan bahwa malaikat akan mengambil kalian secara keseluruhan. maka itu jelas bahwa hakikat wujud manusia adalah ruh, bukan badan. Dengan melihat ayat berikut ini, akan kita dapatkan bahwa wujud manusia adalah ruh, bukan badan. Jika kamu melihat orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan maut dan para Malaikat merentangkan tangan-tangannya seraya berkata ‘keluarkanlah ruh kalian!’ di hari ini kalian akan dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar dan kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.[5]

Dua poin penting dalam ayat tersebut adalah kalimat “keluarkanlah ruh kalian” dan kalimat “hari ini kalian akan dibalas” (tujzauna), yang menunjukkan masa sekarang dan masa yang akan datang. Artinya, dan pembalasan siksa itu berlanjut, maka yang disiksa adalah ruh, karena badan manusia akan rusak dan binasa dengan kematian, ketika itu ia tidak menanggung siksa di alam barzakh.
Bagaimana Kejadian Ruh?

Terdapat banyak teori berkaitan dengan cara kejadian ruh. Hanya saja, di sini kami akan membahas dua teori yang penting.

1. Teori Ruhaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’. Pendukung teori ini menyatakan bahwa hakikat ruh terkait dengan alam malakut (metafisik). Yakni, sebelum kejadian badan, ruh berada di alam malakut. Setelah kejadian badan, ruh menjadi tawanan badan dalam jangka waktu tertentu. Dan setelah manusia mati, ruh kembali lagi ke asalnya, yaitu ke alam malakut.

2. Teori Jismaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’. Penggagas teori ini adalah Mulla Shadra. Ia mengatakan bahwa ruh bukan materi, juga tidak turun dari alam malakut ke alam natural. Akan tetapi, ruh terjadi dari evolusi substansial materi (takamul-e jauhari-ye madeh). Dengan penjelasan lain, ruh manusia muncul dari gerak substansial yang disebut dengan nafs natiqah (ruh yang berakal) dan ia abadi dan tidak musnah sepeninggal badan. Oleh karenanya, ruh adalah hasil dari evolusi natural. Oleh karena itu, kejadian ruh demikian ini disebut dengan jismaniyatul hudus.

Di sini kita ingin mengetahui; mana dari dua teori ini yang diterima oleh al-Quran? Apakah dalam masalah ini ayat-ayat al-Quran juga memaparkan pendapatnya? Dengan mengkaji ayat di bawah ini, bisa dikatakan bahwa al-Quran menerima teori ‘Jismaniyatul hudus ruhaniyatul baqa’. Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.[6]

Al-Quran melanjutkannya demikian:

Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[7] Pada tahapan penciptaan dalam ayat di atas digunakan lafazh ‘Fa’ dan ‘Tsumma’ yang artinya ‘kemudian’, di mana jika kita teliti maka akan memahami maksudnya dengan baik.

Penjelasannya adalah dua lafaz ini memiliki selisih yang sangat dekat sekali. Artinya, jika selisih antara tahapan hanya dari segi sifat atau selisih substansinya dekat sekali, seperti selisih antara tahapan gumpalan darah dengan gumpalan daging, dan gumpalan daging dengan tulang belulang maka yang digunakan adalah lafazd ‘Fa’.

Sedangkan selisih antara saripati tanah sampai mani dan mani sampai gumpalan darah maka selisih substansinya jauh.

Kalau al-Quran mengatakan ‘Tsumma Ansya’nahu Khalkan Akhar’, yaitu kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain, sebagai penguat makna tersebut di mana selisih tahapan ini dengan tahapan sebelumnya adalah jauh yaitu daging bercampur tulang belulang.

Kata ‘Ansya’ dalam sastra Arab artinya adalah menciptakan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya.

Dalam tahapan penciptaan manusia yakni dari tanah sampai daging bercampur tulang belulang, al-Quran menggunakan kata ‘Khalaqa’ dan ‘Ja’ala’. Namun di akhir menggunakan kata ‘Ansya’ dan ‘Khalqan Akhar’ untuk menunjukkan bahwa pada tahapan akhir muncul sesuatu yang baru bagi manusia. Dengan kata lain setelah manusia menjalani tahapan materi ia sampai pada satu tahapan di mana Allah mewujudkan untuknya ciptaan yang lain.

Oleh karenanya, dengan melihat empat poin di bawah ini maka penyimpulan teori ‘Jismaniyatul hudus-nya ruh bisa disandarkan pada ayat-ayat di atas:

1. Sekaitan dengan lafazd ‘Tsumma’ dan ‘Fa’. Lafazd Tsumma digunakan untuk tahapan penciptaan sebelum munculnya ruh. Sedangkan lafazd ‘Fa’ (menunjukkan selisih antara tahapan wujud) digunakan pada tahapan terakhir penciptaan manusia ketika ruh sudah bergabung dengan badan.

2. Penggunaan kata ‘Ansya’, menunjukkan penciptaan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya.

3. Dalam penciptaan ruh menggunakan istilah ‘Khalkan Akhar’ artinya penciptaan lain.

4. Pada kata ‘Ansya’nahu’, zamir ‘Hu’ kembali kepada makhluk yang melewati beberapa tahapan dari gumpalan darah sampai daging yang menutupi tulang.[EMS]
[1]. QS, As-Sajdah: 9.
[2] . QS, Al-Hijr: 29.
[3] . QS, As-Syams: 7-8.
[4] . QS, AS-Sajdah: 11.
[5] . QS, Al-An’am: 93.
[6] . QS, Al-Mukminun: 12-14.
[7] . QS, Al-Mukminun: 14.

dipublikasikan; Gus Droen

... Kebenaran Alquran dalam sorotan ... Ayat tentang Besi ... - 20/04/2010
Emanasi - 15/02/2010
'TO GIVE OR TO GET' - 10/02/2010
Indahnya Memberi - 10/02/2010
Ikhlash Jalan Kebahagiaan - 18/01/2010
Kerja Ikhlas = Kerja Bodoh? - 26/11/2009
Bedanya Kecerdasan Emosional dan Spiritual - 12/11/2009
Mengapa Akar Masalah Sering Berasal Dari Masa Kecil? - 19/10/2009
Indahnya Kesulitan - 02/07/2009
TIPOLOGI MASYARAKAT ARAB KONTEMPORER (1/4) - 24/06/2009
RINTIHAN ITU BELUM JUGA BERAKHIR - 10/06/2009
Kecerdasaan Spritual vs Kecerdasan Ideologis (Sekuler vs Islam) - 10/06/2009
Agama dan Bekal Merantau - 09/06/2009
Tingkatan Berbuat Ihsan - 25/05/2009
Profesor Termuda Di As Ternyata Orang Indonesia - 14/05/2009
Dahsyatnya EFT jarak jauh - 14/05/2009
*Singa yang Menyembunyikan Kukunya* - 06/05/2009
Penelitian: Marah Lebih Memperpendek Usia - 29/04/2009
Remembering for my Father - 29/04/2009
Kabar Gembira Tentang masuk Surga - 24/04/2009
Pengaruh Dzikir Terhadap Ketenangan Jiwa - 19/04/2009
Selamat datang di taman surga - 19/04/2009
Surga Untuk Pelacur - 14/04/2009
Undangan - 01/04/2009
Undangan - 01/04/2009

- Sent using Google Toolbar"

alam indonesia - Penelusuran Google

alam indonesia - Penelusuran Google: "- Sent using Google Toolbar"

Adib Susila Siraj Dua: Kenangan Tentang Sebuah Negara Bernama INDONESIA

Adib Susila Siraj Dua: Kenangan Tentang Sebuah Negara Bernama INDONESIA: "- Sent using Google Toolbar"

Selasa, 12 Oktober 2010

kampung halamanku

            kampung halamanku dulu adalah sebuah desa yg teramat sangat indah panorama alam yang masih natural , pohon tanah dan air nya melimpah, rutinitas warga yang sebagian besar adalah petani membuat aku rindu akan aroma tanah pagi hari usai hujan tadi malam, suara kicau burung liar yang saling bersahutan di pagi hari, terobos sinar mentari di celah gorden yang menyegarkan, membuat hidup begitu bersemangat. aku rindu kampunghalamanku yg dulu..............




                         namun kini semua berubah total , aliran sungai menjadi aliran limbah rumah tangga, tak layak lagi air sungai di gunakan untuk mandi apa lagi di konsumsi, sawah berubah jadi pemukimana, bukit berubah menjadi vila, gunung tergadai tinggal bentuknya saja, dalam nya koropos karna di tambang isi nya, tak lagi bisa mengalirkan air yg bersih yang ada tinggal aliran limbah industri, wahai saudaraku , akan di bawa kemana alam ini, 


entri sunda



        sadududlur hayu urang sasarengan ngahadean dunya ti mulai alam na nepi ka polah hirup urang , jauhan maksiat jauhan anu di haramkeun ku agama sarerea, hiji ieu urang sunda anu ngoncarakeun ker sadayana , hayu urang ngahiji hayu urang menerken sagalana di dunya supaya jauh tina sagala panyawat ti gusti allah swt , aminnnnnnnnnn 

Senin, 11 Oktober 2010

terbata tertatih


sepi terbelenggu gelap

terbata tertatih




           kadang kita tanya pada hati, apa arti cinta sesungguhnya, ............? apa itu cinta .........? apa makana cinta,.........? adakah cinta sejati ...........? sejatinya cinta seperti apa.........? tak lain adalah sebuah pengorbanan hati untuk menuju kabahagiaan dua insan, mencapai itu banyak liku banyak cobaan dan banyak tantangan, ada bahagia di mula dan tragis di akhir, ada lelah di mula bahagia di akhir, ada pula yg layaknya helai kertas yg berjatuhan tak megerti kemana harus jatuh. entah lah ............. tuhan bimbing aku kejalanmu.

nasehat pernikahan

                istri yang kamu nikahi tidaklah semulia khodijah , setakwa aisyah, apa lagi setabah fatimah,   sedangkan kamu suami yg menikahinya, tidaklah semulia muhamad saw, setakwa ibrahim, setabah ayub, segagah musya, apa lagi setapan yusup, 


Add caption 
                   

  kita hanyalah manusia akhir jaman yg punya cita-cita menjadi solih dan membangun keturunan solih semoga kita di takdirkan menjadi pasangan sampai akhir jaman dan sabar serta tabah dalam mendidik anak2 dan rumah tangga yg sakinah mawadhah rahmatan lil alamin yang di ridoi allah swt amiiiiiiiiiiiiiiiiiin

the tsunamy

video
       
                 Sebuah perumpamaan di mana kita tidak lagi bisa menebak hari esok akan ada bencana,sebuah terguran untuk kita bila kita bisa mencermati isi dari tayangan tersebut, dan akan kemanakah setelah itu kita berpaling, pernah terpikir nikmat tuhan manakah yg kamu dustakan, percayalah ada hidup setelah mati dimana semua apa yg kita lakukan di dunia mendapat balasan di kehidupan setelah mati kita,

Master advanced features - Share

Master advanced features - Share

Sharing with Friends

Sharing with Friends

terbata tertatih

hidup ini ibarat sebuah roda yg berputar kadang di atas kadang di bawah berbagai macam cobaan dan rintangan kita lalui dengan berat terkadang kita di hadapkan pada sebuah keputusan yg sulit dan kita di paksa harus menerimanya di dan kita renungi



             tuhhan kemana aku harus memijakan kaki di sudut ini aku ter menung memintamu untuk membuka kan pintu dan ruang untuk aku bergerak

Minggu, 10 Oktober 2010

malam ulang tahunku



malam ini adalah mlm dimana 30th yg lalu telah di lahirkan seorang yg anak laki laki dari 
pasangan bp ............ dan ibu ................ pasangan yg sangat bersahaja , dia dilahirkan dengan di bekali oleh ayahnya dengan nama: ramly, singakt dan padat damanya mengandung makna yg aku sampai saat ini ga ngerti, kini ai jadi pria dewasa yg mandiri dengan semangt usahanya di bidang yg ia mampu , 
namun di malam ini dia begitu kesepian , tidak ada ucapan selamt hari ulang tahun baik dari orang2 terdekatnya maupun dari keuarganya sendiri, bahkan dari seseorang yg paling ia kasihi dan ia cintai tak satu katapun terlontar selamat hari ulang tahun, di mulai membenci yg namanya hari ulang tahun dan dia lebih berpikir untuk lebih baik menata hidup dan terus berusaha menjadi lebih baik 
kesan yg ia dapat mlm ini hanya meratapi nasib dan berpikir lebih deasa dalam menentukan sikap demiakin adanya dia sekarang, wasalammu allaikum wr wb
video
    sebuah kata cinta terucap lewat sebuah lagu terasa begitu indah dan menyejukan jiwa , kuasamu ya ilahiii tak bisa kami gantikan dengan yg lain

asep kumara dewa: helff me

asep kumara dewa: helff me

asep kumara dewa: helff me

asep kumara dewa: helff me

me ficture